Thursday, October 9, 2014

Tanner Patrick - All About That Bass


Because you know
I'm all about that bass
'Bout that bass, no treble
I'm all about that bass
'Bout that bass, no treble
I'm all about that bass
'Bout that bass, no treble
I'm all about that bass
'Bout that bass

Yeah, it's pretty clear, she ain't no size two
But she can shake it, shake it
Like she supposed to do
'Cause she got that boom boom that all the boys chase
And all the right junk in all the right places

Tuesday, July 29, 2014

Kacamata dan Sepotong Kertas Segitiga Merah

Kacamata dan Sepotong Kertas Segitiga Merah
Oleh: Boy Atlaliust Simangunsong

Ospek. Memang jadi momok yang mengerikan buatku setiap memasuki jenjang baru. SMP, SMA sama saja. Bahkan sampai masuk perguruan tinggi pun aku masih belum bisa mengakrabkan diri dengannya. Apalagi di kampus jingga ini. Judulnya, sih, PKK. Pengenalan Kehidupan Kampus. Tapi, hei, aku udah nggak anak-anak lagi. Udah paham dengan kata ‘pengenalan’ disitu itu maksudnya apa. Penindasan anak-anak baru. Menyebalkan.
Emang, sih, tujuan ospek—yang pada dasarnya baik—untuk mengenalkan lingkungan kampus buat kami anak-anak baru, mengenalkan dan mengakrabkan kami dengan senior dan membuat kami bisa berkenalan dengan sesama mahasiswa baru. Tapi lain buat gadis dengan kepribadian introvert sepertiku. Aku bukan sengak. Aku hanya tak suka keramaian. Aku tak mudah untuk berbaur dengan orang baru, apalagi untuk akrab.
Pra PKK—alias persiapan Ospek—kami diharuskan berkumpul di depan balairung kampus untuk membahas persiapan-persiapan yang harus dibawa pada hari penyiksaan kami nanti. Dari balik kacamataku aku sudah bisa melihat gerombolan manusia di kejauhan, bak semut mengerumuni gula. Kudekati kerumunan itu. Beberapa asyik mengobrol, bercanda dan gadis-gadis nyentrik di sebelah sana bisa kupastikan sedang membahas tren fashion terbaru. Aku mencari posisi nyamanku. Ya, di sudut taman. Jauh dari keramaian.
Setengah jam sudah. Tepat pukul delapan. Waktu yang ditentukan oleh para ‘tetua’ untuk berkumpul dan mereka mulai mengumpulkan kami. Berbaris menurut fakultas masing-masing. Dengan langkah lungkai aku beranjak dari tempatku.
“Hukum… hukum…! Yang fakultas hukum baris di sini!” suara sayup terdengar di tengah hiruk pikuk anak-anak baru yang lalu lalang mencari barisannya. Saat mendekati barisan, langkahku yang tadinya ogah-ogahan sedikit tertahan. Dengan wajah datar dan almamater jingganya dia berdiri gagah di depan barisan kami. Aku menunduk saat pandangan kami hampir bertemu. Ya, tak sempat bertemu. Aku terlalu kaku.
“Hei! Kamu!” ujar seseorang dari depan barisan, “cewek yang pake kacamata…” lanjut suara itu menegur seseorang dan sontak membuatku menoleh kearah datangnya suara itu. “Kamu!” katanya dan aku menunjuk hidungku tanpa berucap sedikitpun, “iya, kamu!” tegasnya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...